Minggu, 07 Maret 2010

Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan

Dalam era informasi seperti sekarang ini, peranan teknologi informasi dapat diaplikasikan untuk berbagai bidang kehidupan salah satunya adalah pada bidang kesehatan. Sektor kesehatan merupakan salah satu sektor pembangunan yang sedang mendapat perhatian besar dari pemerintah, karena sektor ini merupakan salah satu sektor pembangunan yang sangat potensial untuk dapat diintegrasikan dengan kehadiran teknologi informasi.

Salah satu contoh aplikasi teknologi informasi di bidang kesehatan adalah dengan mengimplementasikan suatu sistem jaringan kesehatan global dalam satu komunitas, yang dapat berbasis pada LAN (Local Area Network), MAN (Metropolitan Area Network) maupun WAN (Wide Area Network), yang menghubungkan beberapa pusat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit.

Dengan kemajuan teknologi, maka perkembangan rumah sakit di Indonesia, baik dari proses pelayanan kesehatan di Indonesia dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Untuk mengembangkan mutu rumah sakit dibutuhkan beberapa fasilitas pendukung, dimana salah satu fasilitas pendukung tersebut adalah aplikasi teknologi informasi dalam bidang sistem informasi adalah manajemen rumah sakit.

Perencanaan suatu sistem informasi rumah sakit dilakukan dengan mempertimbangkan dua faktor yaitu informasi dan proses, yang berbasis pada struktur manajemen rumah sakit yang bersangkutan. Secara garis besar struktur manajemen suatu rumah sakit dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian struktural dan fungsional. Aktivitas pada bagian struktural lebih berhubungan dengan penanganan aspek administratif dari rumah sakit yang bersangkutan seperti pembayaran dan perlengkapan, sedangkan aktivitas pada bagian fungsional lebih terfokus pada sisi pelayanan kesehatan pada pasien.

Untuk aktivitas fungsional, Teknologi informasi telah memperlihatkan peran yang sangat signifikan untuk menolong jiwa manusia, dan riset di bidang kedokteran. Teknologi digunakan untuk mendiagnosis penyakit, menemukan obat yang tepat, serta menganalisis organ tubuh manusia bagian dalam yang sulit dilihat.

Salah satu contoh pemanfaatannya adalah Teknologi informasi berupa Sistem Computerized Axial Tomography (CAT) berguna untuk menggambar struktur bagian otak dan mengambil gambar seluruh organ tubuh yang tidak bergerak dengan menggunakan sinar-X. Sedangkan untuk yang bergerak menggunakan sistem Dynamic Spatial Reconstructor (DSR) yang dapat digunakan untuk melihat gambar dari berbagai sudut organ tubuh. Data-data ini kemudian akan digunakan oleh dokter atau praktisi medis sebagai dasar penegakan diagnosis maupun aktivitas pemeriksaan.

Untuk hal administratif pada suatu rumah sakit teknologi informasi digunakan untuk menangani transaksi yang berhubungan dengan karyawan, juru medis, dan pasien. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system.

Sekarang ini sudah banyak rumah sakit yang menerapkan sistem informasi untuk memberikan kepuasan pelayanan terhadap masyarakat. Teknologi informasi telah banyak diaplikasikan misalnya, rekam medis elektronis telah diterapkan untuk mendukung pelayanan rawat inap, rawat jalan maupun rawat darurat. Berbagai hasil pemeriksaan laboratoris baik berupa teks, angka maupun gambar (seperti patologi, radiologi, kedokteran nuklir, kardiologi sampai ke neurologi sudah tersedia dalam format elektronik.

Sedangkan pada bagian rawat intensif teknologi informasi digunakan untuk mengcapture data secara langsung dari berbagai monitor dan peralatan elektronik. Sistem pendukung keputusan (SPK) juga sudah diterapkan untuk membantu dokter dan perawat dalam menentukan diagnosis, pemberitahuan riwayat alergi, pemilihan obat serta mematuhi protokol klinik. Dengan kelengkapan fasilitas elektronik, dokter secara rutin menggunakan komputer untuk menemukan pasien, mencari data klinis serta memberikan instruksi klinis. Namun demikian, bukan berarti kertas tidak digunakan. Dokter masih menggunakannya untuk mencetak ringkasan data klinis pasien rawat inap sewaktu melakukan visit. Di bagian rawat jalan, ringkasan klinis tersebut dicetak oleh staf administratif terlebih dahulu.

Meskipun menggunakan pendekatan, jenis aplikasi serta pengalaman yang berbeda-beda, namun secara umum ada kesamaan faktor yang faktor yang menentukan keberhasilan mereka dalam menerapkan rekam medis berbasis komputer, yaitu:
Leadership, komitmen dan visi organisasi Leadership dari pimpinan rumah sakit merupakan faktor terpenting. Hal ini ditandai dengan komitmen jangka panjang serta visi sangat jelas. Seringkali klinisi senior yang menjadi leader dalam komputerisasi dan menjalin kerjasama dengan ahli informatika. Selanjutnya komitmen tersebut direalisasikan secara finansial maupun sumber daya manusia. Bertujuan untuk meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien. Kunci keberhasilan kedua pengembangan sistem merupakan investasi untuk memperbaiki dan meningkatkan proses klinis dan pelayanan pasien.

Saat ini, seiring dengan isyu medical error dan patient safety, kebutuhan pengembangan IT menjadi semakin dominan. Melibatkan klinisi dalam perancangan dan modifikasi sistem. Di beberapa rumah sakit, berbagai upaya dilakukan, baik formal maupun non formal untuk melibatkan dokter dan dalam perancangan dan modifikasi sistem. Dokter, perawat maupun tenaga kesehatan lain yang memiliki pengalaman informatik dilibatkan sebagai penghubung antara klinisi dan sistem informasi. Hal ini terutama sangat penting dalam merancangn sistem pendukung keputusan klinis.

Terdapat beberapa aspek yang dapat menghambat Implementasi teknologi informasi di bidang kesehatan antar lain kurangnya kepedulian pengelola lembaga kesehatan, selain itu keterbatasan dana serta infrastruktur juga ikut berpengaruh. hambatan utama implementasi TI di lembaga kesehatan adalah kurangnya kesadaran dan perhatian pengelola terhadap manfaat teknologi informasi.
Hambatan lainnya, adalah keterbatasan dana dan anggaran untuk pembelian piranti keras, serta keterbatasan infratsruktur jaringan secara nasional. Saat ini pendayagunaan TI belum maksimal, sehingga hal ini perlu diperbaiki dan selanjutnya akan memberikan efektivitas dalam melaksanakan manajemen kesehatan. Hambatan lain dalam pelayanan kesehatan pada suatu rumah sakit adalah pengolahan data pada rumah sakit yang mencakup data-data administratif dan fungsional secara efektif dan efisien.


Referensi :

[1] Akib, Faisal. Peranan Teknologi Informasi di Bidang Kesehatan. 2009

[2] Bagus, Dimas. Manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kehidupan Sehari-hari. 2009, Dapat diperoleh melalui situs http://dhimasbagus.blog.uns.ac.id/

[3] http://www.ascusc.org/jemc/vol16/issue1/abersole.html

[4] http://www.ristek.go.id/berita/ardito.htm

[5] http://budi.insan.co.id/articles/it-ikm2.doc.

[6] http://www.docstoc.com/docs/20489603/PERKEMBANGAN-TEKNOLOGI-INFORMASI

[7] http://www.smartpratama.com/

[8] http://www.total.or.id/info.php

[9] http://www.itku.co.cc/2009/07/peranan-dan-dampak-penggunaan-teknologi.html#

[10] Jogiyanto HM, Sistem Teknologi Informasi, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2003.
Dapat diperoleh melalui situs http://teknik-informatika.com

[11] Kadir, Abdul ; CH.Triwahyuni, Terra. Pengenalan Teknologi Informasi. Penerbit Andi, Yogyakarta, 2003.

[12] Lucas, Henry J. Information Technology for Management.Irwin/McGraw-Hill;2000

[13] O’Brien, Introduction to Information System, McGrawHill, 2004

[14] Penerapan TI di Bidang Kesehatan. April 2009.
Dapat diperoleh melalui situs http://www.ex-presso.co.cc

[15] Pengelola lembaga kesehatan kurang peduli aplikasi TI. Bisnis Indonesia
Dapat diperoleh melalui situs http://groups.yahoo.com/group/berita-it

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar